A Beautiful Mess

biarkan aku menulis tentang mu.. kata demi kata, alinea demi alinea, halaman demi halaman.. hingga menjadi sebuah buku, untuk kita baca bersama

Tidak Ada di Zaman Nabi

Ada yang mempunyai anak, lalu setiap tahun diperingati ulang tahunnya dengan suka cita, tapi pas melihat orang lain memperingati hari lahir nya Nabi alergi. Ada.

Ada pula yang mempunyai orang tua atau pun pasangan, setiap hari ulang tahunnya tiba selalu dikasih kado yang wah, mereka pun diperlakukan dengan spesial sebagai wujud kebahagian atas kelahiran orang terkasih, tapi saat melihat orang lain menyemarakkan hari lahir nya Nabi seakan kebakaran jenggot. Ada.

Bukan, tulisan ini bukan bermaksud untuk menyerang balik tuan-puan yang dengan gigih selalu menegakkan kalimat “Semua tidak pernah dilakukkan Nabi”, bukan. Sadar diri ini terlalu bodoh untuk ikut sekedar menimbrung di diskusi tahunan yang selalu ada saat maulid, nisfu syaban maupun isra mi’raj ini.

Adapun ini hanya sekedar menuangkan kegelisahan hamba yang rasanya membuncah ketika saudara seiman menganggap saudarnya yang lain sesat hanya karena berbahagia menyambut hari lahirnya Sang Nabi itu saja.

Memang, maha benar tuan dan puan bahwa semua ini tidak pernah dilakukan Sang Nabi. Persis seperti tidak pernahnya Al-Qur’an dibukukan, ataupun pesantren didirikan saat di zaman Nabi.
Namun adakah mereka yang mengadakan peringatan itu menyimpang wahai tuan-puan? Apakah sebelum tuan-puan menghakimi mereka sesat, tuan-puan pernah tau, mengerti atau sekedar duduk bersama, melihat atau menyaksikan apa yang saudara seiman kalian lakukan saat memperingati Maulid nya Nabi?

Apa tuan dan puan tau, saat berkumpul mereka hanya membaca Manaqib Nabi, yaitu riwayat atau dalam istilah keren nya biografinya Sang Nabi.
Apakah itu salah? Sedangkan tuan dan puan pun juga pernah membaca biografi pahlawan, pemikir, penemu, artis maupun orang sukses bukan? Bahkan figure itu pun kadang bukan seorang muslim kan? Sudah tentu kalaupun hanya ada satu biografi yang boleh dibaca di bumi ini, tuan puan akan setuju hanya biografinya Nabi kan?
Lantas apakah mereka yang membaca manaqib ini sesat?
 
Selain membaca riwayat hidup Sang Nabi sejak dari dalam kandungan, lahir lalu wafat. Mereka yang tuan dan puan anggap sesat ini hanya membaca maupun melantunkan bait-bait syair pujian kepada Sang Nabi. Apakah itu memuji Sang Nabi yang memang ‘terpuji’ ini menyimpang? Bukankah sesisiapa yang mencintai Nabi sama dengan Mencintai Allah SWT? Bukankah sesiapa yang mentaati Nabi sama dengan mentatai Allah SWT? Lantas dengan memuji Sang Nabi bukankah hakikatnya memuji Allah SWT yang senantiasa meninggikan nama dan derajatnya?
Tuan dan puan sendiri mungkin menyukai puisi cinta penyair generasi 45, tuan dan puan pun mendengar lagu-lagu cinta dari band favorit tuan dan puan. Lantas kenapa tuan dan puan alergi dengan mereka yang membaca syair yang memuji Sang Nabi?

Lantas ada kah hal lain yang mereka lakukan itu menyimpang dari islam? Adakah Mereka berkumpul, membaca manaqib Nabi, melantunkan bait syair pujian kepada Nabi dan Allah, dan diakhiri makan makan bersama (kalau ada) itu salah?

“Acara ultah sambil jojing mabok di club itu haram ya okelah, tapi mosok merayakan ultah orang yang begitu baik dgn ngaji pun dianggap sesat?” – Zenrs 

La na a’maluna, wa la kum a’malukum.

24 Des 2015.

Advertisements

Review Film : Love You Love You Not

Hanya ada dua alasan ketika saya memutuskan membuat review tentang sesuatu. Karena saya sendiri bukan seseorang yang ahli dan mempunyai keterampilan untuk menuliskan review. Jadi selalu ada alasan penting mengapa saya memutuskan untuk meluangkan waktu untuk sekedar menuliskan review.

Pertama karena saya sangat terpukau atau terpesona dengan suatu hal tersebut, sehingga saya tidak bisa menahan diri untuk menceritakannya dan membaginya kesemua orang. Kedua, karena saya sangat menyesal dengan suatu hal tersebut. Sehingga –meminjam istilah Hans David- saya memiliki tanggung jawab moral untuk membuat orang berpikir dua kali membeli produk, membaca buku atau menonton film tersebut.

Nah, bagaimana dengan film Love You Love You Not yang sukses membuat saya akhirnya menuliskan review nya. Bagus? Apa sebaliknya?

Let’s see. HAHA 

Don’t judge a book by the cover. Jangan pula nonton film hanya karena artis nya bagus. Nampaknya saya dan pacar tidak cukup mengambil pelajaran dari pepatah tersebut.

Berawal dari kebingungan memilih film untuk mengisi hari ulang tahun bersama sang pacar. Lantas dia memberikan rekomendasi film Love You Love You Not, film adaptasi dari film komedi romantis Thailand yang dibintangi oleh Chelsea Islan. Saya pun tidak menolak. Selain karena ini merupakan film adaptasi – yang tentu saat produser berniat mengadaptasi berarti film asli cukup bagus dan sukses di negeri asalnya -, Film ini pun diperankan oleh Chelsea Islan. Kami pun bersepakat, tidak mungkin dong Chelsea mengambil film yang ga jelas juntrungannya.

Bermodalkan semua itu kami pun dengan semangat pergi ke studio tanpa sempat menggoogling sinopsis, review atau sekedar meliat ocehan orang yang sempat nonton film ini di TL twitter.
Alhasil kami tidak berharap lebih selain film itu dapat menghibur kami menikmati bolos kerja.

Film ini menceritakan Amira (Chelsea Islan), guru les bahasa inggris yang mungkin bisa dibilang cukup elit krn berlokasi di sebuah Mall (bukan ruko butut, maksudnya). Namun parahnya tak satupun murid nya yang beres bahasa inggris nya.

Diawal film kami disuguhi efek-efek lebay ala FTV seperti rambut panjang yang indah Chelsea berkibar-kibar karena tiupan angin saat menolong anak kecil menyebrang jalan di suatu lampu merah.
Di lampu merah tersebut lah pertama kali Taufan (Miller Khan) terpikat. Taufan sendiri adalah seorang cowok tajir dan nantinya adalah pemilik Mall tempat dimana tempat kursus elit Amira mengajar.

Kelas bahasa inggris pun dimulai. Joke garing bahasa inggris gagal ala anak kecil pun bersilewaran. Dan entah bagaimana caranya, saat mengajar ada Taufan duduk paling belakang. Dengan kemampuan bahasa inggris nya yang baik, ia berhasil memikat sang Guru Amira.

Skip.

Main plot nya dimulai dari Suchin (entah ia wanita seksi berkewarganegaraan Jepang atau Thailand) salah satu murid Guru Amira di kelas bahasa inggris yang hendak berangkat ke Amerika. Suchin meminta bantuan untuk memutuskan pacarnya yang bernama Juki alias Marzuki yang diperankan oleh Hamish Daud. Dengan alasan karena si Juki tidak bisa bisa berbahasa inggris dan susah untuk berkomunikasi dengan Suchin. Lagi lagi, entah bagaimana pula si Suchin ketemu dg Juki, mereka ceritanya hanya berkomunkikasi dengan bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Dan aktivitas Seks lah yang menyatukan mereka berdua. Juki sendiri berwatak selengeean, jorok, kasar dan tentu hebat dalam aktivtas sek – – “

Karena ditinggal Suchin ke Amerika, Juli pun ngebet banget belajar bahasa inggris sama Guru Amira agar bisa kembali bersama Suchin.

Lantas…
Sepanjang film kami disuguhkan plot yang aneh, flat dan terkesan terpotong-potong. Entah apakah ini karena proses sunting atau karena emang ga jelas, sehingga film disajikan kepada penonton dengan terpotong-potong. Tidak ada penggalian tentang karakter-karakter di dalam film ini. Semua berjalan dengan cepat begitu saja dari satu scene ke scene lain yang tiba-tiba Amira bisa akrab dengan Taufan dan Juki dalam waktu singkat sekali. Tak ada proses ini itu, semua terjadi secepat kilat (lebay sih yang ini). Tau tau nya semua sudah main perasaan. Zzz
Kita sebagai penonton belum sempat meliat tumbuh nya chemistri antara Amira dg Taufan serta Amira dg Juli, tiba tiba semua sok dekat aja.

Selain alur cerita yang sangat cepat dari satu set ke set lain yang mengakibatkan kami mengkerutkan dahi terus bilang “loh, ko tiba tiba kesini?!”, akting Hamish Daud yang memerankan Juki yang berlatar belakang seorang pemuda betawi pun sangat dipaksakan. Bahkan untuk seorang yang awam seperti kami.

Selain semua kekurangan nya ini itu, kami pun terkaget-kaget dengan penggunaan efek animasi yang kasaaaaar! Sekasar jalan bebatuan yang belum keaspal. Jangankan orang yang dengan kemampuan melihat normal, nenek-nenek rabun pun tau kalo cecak yang nongol di diatas sop kepala kambing cuma animasi. Dan efek ala sinteron laga jadul kayak Tuyul dan Mbak Yul ini sangat tidak pantas masuk bioskop.
Bukan cuma itu saja, diakhir film scene dengan set di depan Bandara Soetta yang menggunakan green screen pun ga niat sama sekali. Dan sungguh sangat-sangat jelek.

Kok bisa 2015 shoting begini –‘

Sang pacar pun menimpali. Tuh, mana yang katanya gak mungkin Chelsea Islan main film ga jelas. Oke saya pun kalah. Walau sebagai salah satu simpatisan FPI (Front Pembela Islan) saya tidak bisa tidak merasa kecewa dengan film Chelsea yang satu ini.

Alhasil satu-satunya yang dapat
dinikmati dalam film ini cuma kesempurnaan Chelsea Islan 😥

Film ini pun jauh sekali dari genre komedi romantis. Joke joke garing, tokoh-tokoh nya tiba-tiba baper begitu. Mana ada komedi romantis? Syedih.

Sekian curhatan sekalian review Film Love You Love You Not ini. Semoga tidak ada simpatisan FPI yang marah-marah.
Sampai jumpa di review wannabe selanjutnya.

Ps :
-Poster dari google
-Terimakasih Haiza Azrina sudah mengajak menonton film yang sangat bermutu ini

Berdamai Dengan Keadaan

image

Hari ini, 19 agustus ke-24 kali nya yang telah aku lalui semasa hidup.
Entah berapa banyak anugerah yang telah datang dan hampir namun
terlewat untuk disyukuri.
Namun apakah rasa syukur itu telah berkurang maknanya, hanya karena ia
datang terlambat? Semoga Dia mengampuniku untuk itu. Read the rest of this entry »

Jangan Salahkan David de Gea

Magic

“De Gea (yang sekarang)  bukanlah De Gea yang sama seperti musim lalu, yang menjadi pemain terbaik saya.”
Louis Van Gaal

LVG akhirnya curhat, mengapa ia memutuskan membangku cadangkan David de Gea di laga pembuka EPL 15/16 saat menjamu Tottenham Hotspur.
Simpel saja,  de Gea menolak untuk. bermain untuk Man United.
Pun di laga ke dua, saat bertandang ke Villa Park. David de Gea kembali menjadi penghangat bangku cadangan. Sesuatu pemandangan yang langka di dua musim terakhir, karena ia adalah sihir Man United di garis pertahanan yang mampu menahan laju bola ke arah gawang Man United beberapa tahun belakangan. Read the rest of this entry »