A Beautiful Mess

biarkan aku menulis tentang mu.. kata demi kata, alinea demi alinea, halaman demi halaman.. hingga menjadi sebuah buku, untuk kita baca bersama

Category: Riak-riak hidup

Berdamai Dengan Keadaan

image

Hari ini, 19 agustus ke-24 kali nya yang telah aku lalui semasa hidup.
Entah berapa banyak anugerah yang telah datang dan hampir namun
terlewat untuk disyukuri.
Namun apakah rasa syukur itu telah berkurang maknanya, hanya karena ia
datang terlambat? Semoga Dia mengampuniku untuk itu. Read the rest of this entry »

Manners Maketh Man!

“Manners maketh man!” – Harry in the Kingsman The Secret Services

Tak dapat dipungkiri, dengan semua kemajuan yang diperoleh manusia di era modern, manusia yang hidup  di masa sekarang tentu merasa lebih maju dan lebih baik ketimbang mereka hidup di masa lampau.
Namun tidakkah sadar bahwa semua kemajuan ini nampak hanya sebuah ilusi, karena peradaban manusia tidak pernah benar-benar maju, bahkan bisa dikatakan sebuah kemunduran. Read the rest of this entry »

Art of Principle

Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan – Zen.RS

Hari itu, Socrates berdiri dihadapan hampir sepertiga penduduk Athena. Dia didakwa merusak pikiran kaum muda Athena dan menghina dewa-dewa. Socrates pun berhadapan langsung dengan penuntutnya yang mustahil dikalahkan. Bukan karena kehebatan mereka tapi jauh karena mereka tersebut berasal dari tiga golongan sosial yang paling berpengaruh di Athena.

Meski tahu bahwa ia tidak akan memenangkan pengadilan, tapi harga diri dan filsafat yang dipegangnya hanya memberikannya satu pilihan : maju kedepan pengadilan menghadapi para penuntutnya. Di persidangan, ia membacakan tiga pidato yang pada akhirnya mahsyur dikenal dengan sebutan Apologia. Menghadapi Meletos yang mewakili kaum penyair, Anythos yang mewakili para seniman dan negarawan dan Lycon yang mewakili musuh besar Socrates: kaum sofis. Socrates menyampaikan pembelaannya dengan kalimat yang terus terang, menyebut nama lawannya tanpa inisial, menghantam lawannya dengan lugas, dengan tanpa rasa takut sekaligus tanpa kehilangan sedikitpun cira rasa kerendah-hatian dirinya yang sudah dikenal di penjuru Athena.

Read the rest of this entry »

Keturunan dua orang yang akan disembelih

Dia lahir dari keturunan dua orang yang akan disembelih. Moyangnya Nabi Ismail AS, dan Ayahnya ‘Abdullah bin Abdul Muthalib.

Sebagaimana mahsyur kisah hendak dikurbankannya moyangnya yaitu Nabi Ismail AS sebagai ujian keimanan dan kesabaran keluarga Nabi Ibrahim AS. Ayahnya pun ‘Abdullah sebelum menikah hendak dikurbankan oleh sang kakek Abdul Muthalib.

***

Bermula dari nadzar Abdul Muthalib ketika menggali kembali sumur zam-zam yang dikubur Suku Jumhur, apabila Allah menganugerahinya sepuluh anak laki-laki, maka ia akan meyembelih salah seorang dari mereka sebagai kurban. [1]

Keinginannya pun tercapai untuk memiliki 10 anak laki-laki. Untuk memenuhi nazarnya, Abdul Muthalib pun mulai mengundi nama anak-anaknya untuk dikurbankan. Dan nak dikata, nama ‘Abdullah anaknya yang paling baik, saleh dan tampan serta yang paling dicintainya pun terpilih dalam undian. Para keluarga dan kaum Quraisy yang menyaksikan peristiwa haru tersebut pun berusaha mencegahnya. [1]

Diundi berulangkali, nama ‘Abdullah terus yang keluar sebagai takdir yang tidak bisa ditawar-tawar. Para kaum Quraisy pun menyuruhnya untuk mengganti nazarnya dengan 100 ekor unta. Abdul Muthalib pun akhirnya mengganti kurban anaknya menjadi kurban 100 ekor unta. [2]

Dan kelak, lahirlah Nabi Muhammad SAW dari sulbi ‘Abdullah sebagai perwujudan sifat yang terlebih dulu dikabarkan oleh Allah SWT tentang moyangnya Nabi Ismail AS.

“Maka Kami berikan kabar gembira pada Ibrahim dengan seorang bocah yang amat Halim.” Ash Shaaffat 101 [2]

Melalui pribadinya, ia melukiskan sifat Halim dengan sempurna dan tanpa cela. Dia lah pemilik sebaik-baiknya kesantunan, kelemah lembutan dan kesabaran.

[1] Syaikh Shafiyurahman Al-Mubarakfuri. 2013. Sirah Nabi. PT. Mizan Pustaka. Bandung

[2] Salim A. Fillah. 2013. Yang Yatim dan Diyatimkan. http://www.salimafillah.com/yang-yatim-dan-diyatimkan/