A Beautiful Mess

biarkan aku menulis tentang mu.. kata demi kata, alinea demi alinea, halaman demi halaman.. hingga menjadi sebuah buku, untuk kita baca bersama

Category: Note to my self

Bilal dan Kerinduan

Kenangan selalu saja tak terduga, dia bisa datang kapan saja.
Kenangan bukanlah perangkat, bukanlah alat, ia adalah sejenis “kata benda” yang hidup dan bergerak. – Zenrs

Masa memang berlalu, namun tidak dengan kenangan dan ingatan. Begitu banyak orang yang memilih hidup dalam kenangan serta ingatan, karena semua hal berubah namun tidak dengan dua hal itu.

Namun bagi sebagian orang kenangan bisa lebih menyayat hati ketimbang pedang. Dan Inilah yang mungkin dirasakan Bilal Bin Rabbah seorang mu’adzin pertama Islam yang berasal dari Habasyah (Ethiopia). Dialah yang selalu mengumandangkan adzan saat waktu sholat tiba, suaranya indah dan khas. Saat ia adzan, maka Nabi lah yang menjadi Imam sholat.

* * *

“Biarkan aku jadi Mu’adzin nya Nabi saja.”
Dengan nan hati pilu Bilal menjawab permintaan sang Khalifah Abu Bakar Asshiddiq ketika diminta mengumandangkan adzan di hari-hari selepas wafatnya Rasulullah SAW.
Setelah sekian lama selalu bersama-sama Rasulullah SAW dan menjadi mu’adzin tetapnya, tak sampai hatinya kalau harus mengumandangkan adzan tanpa sang Imam hakiki Rasulullah SAW. Saat Bilal yang adzan dan Rasulullah Imam sudah menjadi kesatuan, seperti pasangan yang tak terpisahkan.

Untuk sebuah cinta yang dalam, kehilangan akan selalu aktual. Untuk kerinduan yang menahun, kehilangan tak akan pernah basi. Kata Zenrs.

Kesedihan sebab ditinggal wafat oleh Rasululah SAW terus mengendap, semakin hari semakin membakar hati. Bilal pun akhirnya menyerah, lalu beranjak pergi meninggalkan kota Madinah. Tak sanggup ia menetap di kota yang setiap sudutnya selalu mengingatkannya kepada sang Nabi kekasih hati. Dia pun akhirnya pergi ke Damaskus bergabung bersama mujahidin.

Lama tak mengunjungi Madinah, Rasulullah SAW pun menemuinya dalam mimpi dan berkata. “Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”

Keesokan harinya Bilal pun terperanjat, bathin nya pun berkata dengan sedikit menyesal, apa yang telah diperlakukannya. Ia pun lantas mempersiapkan perjalanan ke Madinah setelah sekian tahun meninggalkan kota Sang Nabi.

Setelah melakukan perjalan berhari-hari melalui padang pasir, ia pun tiba di Madinah. Sesampainya disana ia pun melepas semua kerinduannya dengan Sang Nabi dengan berziarah ke makamnya.

Sesaat setelah menziarahi kubur Sang Nabi, dua pemuda yang beranjak dewasa menghampirinya. Dialah Sayyidina Hasan dan Sayyidin Husein, cucu Rasulullah SAW.
Dengan mata sembab Bilal memeluk kedua buah hati orang yang dicintainya itu.
Lantas salah seorang dari cucu Rasulullah itu meminta Bilal untuk kembali mengumandankan adzan, sekedar untuk melepas kerinduan karena teringat saat Bilal adzan, berarti Rasulullah yang menjadi Imam.
“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandankan adzan? kami ingin mengenang kakek kami”

Sayyidina Umar Bin Khattab yang ketika itu menjadi khalifah setelah Sayyidana Abu Bakar wafat, menyaksikan peristiwa haru itu. Ia yang juga dirundung kerinduan yang mendalam terhadap Rasulullah SAW pun memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan sesaat melihat momen menyedihkan itu.

Akhirnya Bilal pun memenuhi permintaan mereka. Saat waktu sholat tiba, Bilal pun pergi ke tempat dahulu biasa dia adzan di masa Rasulullah SAW hidup.

“Allahu akbar”

Adzan pun dikumandangkan. Suara indah nan lantang itu digelorakan sampai terdengar  oleh semua orang di Madinah.

Seluruh Madinah pun seketika menjadi senyap, semua terkejut mendengar suara adzan yang indah dan khas yang selama ini hilang seiring wafatnya Rasulullah SAW sekonyong-konyong muncul terdengar indera pendengaran mereka.

“Assyhadu an laa ilaha illallah”
Suara bening itu kembali menggelora ke langit.

Seluruh isi kota Madinah pun berlarian keluar menuju arah suara adzan tersebut berasal. Suara yang begitu dirindukan itupun seketika mengingatkan masyarakat Madinah pada Rasulullah SAW.

“Assyhadu anna muhammadan rasulullah”
Suara itu tak lagi terdengar jelas. Seluruh tubuh Bilal gemetar. Perlahan air mata mengalir diwajahnya.

Seketika seisi kota Madinah pecah akan tangisan kerinduan yang selama ini telah mengendap membakar hati kepada Rasulullah SAW.
Semua menangis, seketika ingatan akan masa-masa indah bersama Rasulullah SAW kembali menusuk hati. Serasa bahwa baru saja Rasulullah SAW bersama-sama dengan mereka.
Bilal pun tak sanggup hati meneruskan adzannya. Lidahnya seakan tercekat. Deraian air mata kerinduan tak dapat lagi ditahannya.

Adzan itupun tak pernah diselesaikan, adzan itu menjadi adzan nya yang pertama dan terakhir setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Kesedihan akan kenangan yang selalu muncul saat menyeru “Asyhadu anna muhammadan rasulullah” membuat bibirnya kaku untuk menyerukan adzan.

Sialkah bagi besi yang berkarat?

Idza ahabballhu ‘abdan, ibtalah
Apabila Allah mencintai hamba-Nya, maka ia akan mengujinya.

Begitulah ucapan Rasulullah SAW yang disampaikan berulang kali oleh Guru kepada kami murid-muridnya, seakan mengisyaratkan kepada jiwa-jiwa yang rapuh ini untuk selalu berdiri dengan teguh dan tersenyum menatap dunia.

Tak ada yang salah dengan semua bentuk kasih dan cinta Tuhan, kita lah yang sering salah mendefinisikan kebaikan, kasih dan cinta dari Tuhan. Kita terlanjur mendefinisikan bahwa cinta selalu berbentuk anugerah serta keindahan. Bukankah kata Tulus dalam lirik salah satu lagu nya bilang bahwa “Cinta memang banyak bentuknya”?
Read the rest of this entry »

Refleksi kehidupan Semar

20140725-084650-31610874.jpg

Bagi Semar.. tak ada senang tak ada susah, tangisnya telah melebur di dalam tawa, tawanya telah mencebur dalam samudra tangis

Sebagai seorang asli Banjar yang selama ini menghabiskan waktu di kampung halaman saja tentu merupakan hal yang wajar apabila saya bukan seorang yang tau dan mengerti tentang wayang. Padahal menurut Wikipedia, Wayang sudah masuk ke Kalimantan sejak tahun 1300 saat Majapahit menguasai Tjilik Riwut. Namun sangat disayangkan Wayang memang kurang dapat berkembang di Kalimantan. Salah satu kendalanya adalah bahasa, seperti yang diketahui Wayang menggunakan reptoar dan ideom berbahasa Jawa yang tentu tidak dapat dimengerti masyarakat lokal. Terlebih saya seorang dari generasi 90an, waktu kecil saya lebih banyak untuk mengumpulkan Tazos dan melihat Doraemon ketimbang melihat pertunjukan wayang.

Read the rest of this entry »

Puzzle yang hilang (dari mereka)

“Seandainya si kaya lebih peka, si miskin mungkin tidak perlu merendahkan dirinya di pinggir jalan-jalan kota…”

Sebagai mahkluk yang mempunyai akal dan perasaan, manusia rasanya tidak perlu dalil-dalil Tuhan untuk menjungjung tinggi nilai kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, meski diperdengarkannya firman Tuhan, manusia ternyata masih bisa lalai.
Read the rest of this entry »