A Beautiful Mess

biarkan aku menulis tentang mu.. kata demi kata, alinea demi alinea, halaman demi halaman.. hingga menjadi sebuah buku, untuk kita baca bersama

Category: Review

Review Film : Love You Love You Not

Hanya ada dua alasan ketika saya memutuskan membuat review tentang sesuatu. Karena saya sendiri bukan seseorang yang ahli dan mempunyai keterampilan untuk menuliskan review. Jadi selalu ada alasan penting mengapa saya memutuskan untuk meluangkan waktu untuk sekedar menuliskan review.

Pertama karena saya sangat terpukau atau terpesona dengan suatu hal tersebut, sehingga saya tidak bisa menahan diri untuk menceritakannya dan membaginya kesemua orang. Kedua, karena saya sangat menyesal dengan suatu hal tersebut. Sehingga –meminjam istilah Hans David- saya memiliki tanggung jawab moral untuk membuat orang berpikir dua kali membeli produk, membaca buku atau menonton film tersebut.

Nah, bagaimana dengan film Love You Love You Not yang sukses membuat saya akhirnya menuliskan review nya. Bagus? Apa sebaliknya?

Let’s see. HAHA 

Don’t judge a book by the cover. Jangan pula nonton film hanya karena artis nya bagus. Nampaknya saya dan pacar tidak cukup mengambil pelajaran dari pepatah tersebut.

Berawal dari kebingungan memilih film untuk mengisi hari ulang tahun bersama sang pacar. Lantas dia memberikan rekomendasi film Love You Love You Not, film adaptasi dari film komedi romantis Thailand yang dibintangi oleh Chelsea Islan. Saya pun tidak menolak. Selain karena ini merupakan film adaptasi – yang tentu saat produser berniat mengadaptasi berarti film asli cukup bagus dan sukses di negeri asalnya -, Film ini pun diperankan oleh Chelsea Islan. Kami pun bersepakat, tidak mungkin dong Chelsea mengambil film yang ga jelas juntrungannya.

Bermodalkan semua itu kami pun dengan semangat pergi ke studio tanpa sempat menggoogling sinopsis, review atau sekedar meliat ocehan orang yang sempat nonton film ini di TL twitter.
Alhasil kami tidak berharap lebih selain film itu dapat menghibur kami menikmati bolos kerja.

Film ini menceritakan Amira (Chelsea Islan), guru les bahasa inggris yang mungkin bisa dibilang cukup elit krn berlokasi di sebuah Mall (bukan ruko butut, maksudnya). Namun parahnya tak satupun murid nya yang beres bahasa inggris nya.

Diawal film kami disuguhi efek-efek lebay ala FTV seperti rambut panjang yang indah Chelsea berkibar-kibar karena tiupan angin saat menolong anak kecil menyebrang jalan di suatu lampu merah.
Di lampu merah tersebut lah pertama kali Taufan (Miller Khan) terpikat. Taufan sendiri adalah seorang cowok tajir dan nantinya adalah pemilik Mall tempat dimana tempat kursus elit Amira mengajar.

Kelas bahasa inggris pun dimulai. Joke garing bahasa inggris gagal ala anak kecil pun bersilewaran. Dan entah bagaimana caranya, saat mengajar ada Taufan duduk paling belakang. Dengan kemampuan bahasa inggris nya yang baik, ia berhasil memikat sang Guru Amira.

Skip.

Main plot nya dimulai dari Suchin (entah ia wanita seksi berkewarganegaraan Jepang atau Thailand) salah satu murid Guru Amira di kelas bahasa inggris yang hendak berangkat ke Amerika. Suchin meminta bantuan untuk memutuskan pacarnya yang bernama Juki alias Marzuki yang diperankan oleh Hamish Daud. Dengan alasan karena si Juki tidak bisa bisa berbahasa inggris dan susah untuk berkomunikasi dengan Suchin. Lagi lagi, entah bagaimana pula si Suchin ketemu dg Juki, mereka ceritanya hanya berkomunkikasi dengan bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Dan aktivitas Seks lah yang menyatukan mereka berdua. Juki sendiri berwatak selengeean, jorok, kasar dan tentu hebat dalam aktivtas sek – – “

Karena ditinggal Suchin ke Amerika, Juli pun ngebet banget belajar bahasa inggris sama Guru Amira agar bisa kembali bersama Suchin.

Lantas…
Sepanjang film kami disuguhkan plot yang aneh, flat dan terkesan terpotong-potong. Entah apakah ini karena proses sunting atau karena emang ga jelas, sehingga film disajikan kepada penonton dengan terpotong-potong. Tidak ada penggalian tentang karakter-karakter di dalam film ini. Semua berjalan dengan cepat begitu saja dari satu scene ke scene lain yang tiba-tiba Amira bisa akrab dengan Taufan dan Juki dalam waktu singkat sekali. Tak ada proses ini itu, semua terjadi secepat kilat (lebay sih yang ini). Tau tau nya semua sudah main perasaan. Zzz
Kita sebagai penonton belum sempat meliat tumbuh nya chemistri antara Amira dg Taufan serta Amira dg Juli, tiba tiba semua sok dekat aja.

Selain alur cerita yang sangat cepat dari satu set ke set lain yang mengakibatkan kami mengkerutkan dahi terus bilang “loh, ko tiba tiba kesini?!”, akting Hamish Daud yang memerankan Juki yang berlatar belakang seorang pemuda betawi pun sangat dipaksakan. Bahkan untuk seorang yang awam seperti kami.

Selain semua kekurangan nya ini itu, kami pun terkaget-kaget dengan penggunaan efek animasi yang kasaaaaar! Sekasar jalan bebatuan yang belum keaspal. Jangankan orang yang dengan kemampuan melihat normal, nenek-nenek rabun pun tau kalo cecak yang nongol di diatas sop kepala kambing cuma animasi. Dan efek ala sinteron laga jadul kayak Tuyul dan Mbak Yul ini sangat tidak pantas masuk bioskop.
Bukan cuma itu saja, diakhir film scene dengan set di depan Bandara Soetta yang menggunakan green screen pun ga niat sama sekali. Dan sungguh sangat-sangat jelek.

Kok bisa 2015 shoting begini –‘

Sang pacar pun menimpali. Tuh, mana yang katanya gak mungkin Chelsea Islan main film ga jelas. Oke saya pun kalah. Walau sebagai salah satu simpatisan FPI (Front Pembela Islan) saya tidak bisa tidak merasa kecewa dengan film Chelsea yang satu ini.

Alhasil satu-satunya yang dapat
dinikmati dalam film ini cuma kesempurnaan Chelsea Islan 😥

Film ini pun jauh sekali dari genre komedi romantis. Joke joke garing, tokoh-tokoh nya tiba-tiba baper begitu. Mana ada komedi romantis? Syedih.

Sekian curhatan sekalian review Film Love You Love You Not ini. Semoga tidak ada simpatisan FPI yang marah-marah.
Sampai jumpa di review wannabe selanjutnya.

Ps :
-Poster dari google
-Terimakasih Haiza Azrina sudah mengajak menonton film yang sangat bermutu ini

Mi4i, The Hottest One (Unboxing & Review)

Peringatan :

Ini bukan review pro yang biasa dibuat oleh pakar gadget yang bahas spec dan tech secara ilmiah. Review ini dibuat hanya sekedar untuk membagikan pengalaman saya ketika mengenggenggam device Xiaomi paling hot tahun ini. Kenapa disebut hot? Dalam waktu 11 menit saja, Mi4i terjual 10000 unit saat flash sale pertama di mi.com 26 mei 2015.

Namun, karena saya tipe orang yang tidak penyabar untuk beli saat flash sale yang biasa dilakukan setiap hari selasa (di bulan juni) dan ga mau nunggu proses pengiriman, akhirnya saya pun beli offline dengan harga lebih mahal :’) *jadi curhat*

Prolog

Mi4i adalah handphone android pertama yang saya miliki, sebelumnya saya merupakan iOs user yang mengagungkan Apple Inc sehingga tidak pernah tertarik dengan android device.
Dan ternyata move on ke Android malah memilih Xiaomi, yang notabane nya tidak pernah terpikir sebelumnya.
Bayangkan nama nya terlalu Chines, jangan kan scouting, melirik pun enggak. Persepsi nya pasti hp murahan.
Sampai akhirnya saya memegang sendiri Mi 4 punya teman kantor, flagship Xiaomi dan versi kakak dari Mi4i suskes mebuat saya jatuh hati. *backsound Raisa – Jatuh Hati*
Okay, udahan dulu curcolnya, saat nya kita unboxing dan review.
Walau saat unboxing ditemani sales support gerai yang menjual mi4i untuk mengecek device yang baru saya mahari, tetap saja unboxing Mi4i merupakan pengalaman yang menyenangkan. :’) Read the rest of this entry »