Tidak Ada di Zaman Nabi

by saukani muhammad

Ada yang mempunyai anak, lalu setiap tahun diperingati ulang tahunnya dengan suka cita, tapi pas melihat orang lain memperingati hari lahir nya Nabi alergi. Ada.

Ada pula yang mempunyai orang tua atau pun pasangan, setiap hari ulang tahunnya tiba selalu dikasih kado yang wah, mereka pun diperlakukan dengan spesial sebagai wujud kebahagian atas kelahiran orang terkasih, tapi saat melihat orang lain menyemarakkan hari lahir nya Nabi seakan kebakaran jenggot. Ada.

Bukan, tulisan ini bukan bermaksud untuk menyerang balik tuan-puan yang dengan gigih selalu menegakkan kalimat “Semua tidak pernah dilakukkan Nabi”, bukan. Sadar diri ini terlalu bodoh untuk ikut sekedar menimbrung di diskusi tahunan yang selalu ada saat maulid, nisfu syaban maupun isra mi’raj ini.

Adapun ini hanya sekedar menuangkan kegelisahan hamba yang rasanya membuncah ketika saudara seiman menganggap saudarnya yang lain sesat hanya karena berbahagia menyambut hari lahirnya Sang Nabi itu saja.

Memang, maha benar tuan dan puan bahwa semua ini tidak pernah dilakukan Sang Nabi. Persis seperti tidak pernahnya Al-Qur’an dibukukan, ataupun pesantren didirikan saat di zaman Nabi.
Namun adakah mereka yang mengadakan peringatan itu menyimpang wahai tuan-puan? Apakah sebelum tuan-puan menghakimi mereka sesat, tuan-puan pernah tau, mengerti atau sekedar duduk bersama, melihat atau menyaksikan apa yang saudara seiman kalian lakukan saat memperingati Maulid nya Nabi?

Apa tuan dan puan tau, saat berkumpul mereka hanya membaca Manaqib Nabi, yaitu riwayat atau dalam istilah keren nya biografinya Sang Nabi.
Apakah itu salah? Sedangkan tuan dan puan pun juga pernah membaca biografi pahlawan, pemikir, penemu, artis maupun orang sukses bukan? Bahkan figure itu pun kadang bukan seorang muslim kan? Sudah tentu kalaupun hanya ada satu biografi yang boleh dibaca di bumi ini, tuan puan akan setuju hanya biografinya Nabi kan?
Lantas apakah mereka yang membaca manaqib ini sesat?
 
Selain membaca riwayat hidup Sang Nabi sejak dari dalam kandungan, lahir lalu wafat. Mereka yang tuan dan puan anggap sesat ini hanya membaca maupun melantunkan bait-bait syair pujian kepada Sang Nabi. Apakah itu memuji Sang Nabi yang memang ‘terpuji’ ini menyimpang? Bukankah sesisiapa yang mencintai Nabi sama dengan Mencintai Allah SWT? Bukankah sesiapa yang mentaati Nabi sama dengan mentatai Allah SWT? Lantas dengan memuji Sang Nabi bukankah hakikatnya memuji Allah SWT yang senantiasa meninggikan nama dan derajatnya?
Tuan dan puan sendiri mungkin menyukai puisi cinta penyair generasi 45, tuan dan puan pun mendengar lagu-lagu cinta dari band favorit tuan dan puan. Lantas kenapa tuan dan puan alergi dengan mereka yang membaca syair yang memuji Sang Nabi?

Lantas ada kah hal lain yang mereka lakukan itu menyimpang dari islam? Adakah Mereka berkumpul, membaca manaqib Nabi, melantunkan bait syair pujian kepada Nabi dan Allah, dan diakhiri makan makan bersama (kalau ada) itu salah?

“Acara ultah sambil jojing mabok di club itu haram ya okelah, tapi mosok merayakan ultah orang yang begitu baik dgn ngaji pun dianggap sesat?” – Zenrs 

La na a’maluna, wa la kum a’malukum.

24 Des 2015.

Advertisements