Art of Principle

by saukani muhammad

Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan – Zen.RS

Hari itu, Socrates berdiri dihadapan hampir sepertiga penduduk Athena. Dia didakwa merusak pikiran kaum muda Athena dan menghina dewa-dewa. Socrates pun berhadapan langsung dengan penuntutnya yang mustahil dikalahkan. Bukan karena kehebatan mereka tapi jauh karena mereka tersebut berasal dari tiga golongan sosial yang paling berpengaruh di Athena.

Meski tahu bahwa ia tidak akan memenangkan pengadilan, tapi harga diri dan filsafat yang dipegangnya hanya memberikannya satu pilihan : maju kedepan pengadilan menghadapi para penuntutnya. Di persidangan, ia membacakan tiga pidato yang pada akhirnya mahsyur dikenal dengan sebutan Apologia. Menghadapi Meletos yang mewakili kaum penyair, Anythos yang mewakili para seniman dan negarawan dan Lycon yang mewakili musuh besar Socrates: kaum sofis. Socrates menyampaikan pembelaannya dengan kalimat yang terus terang, menyebut nama lawannya tanpa inisial, menghantam lawannya dengan lugas, dengan tanpa rasa takut sekaligus tanpa kehilangan sedikitpun cira rasa kerendah-hatian dirinya yang sudah dikenal di penjuru Athena.

Pada akhirnya dia pun dihukum mati. Namun Socrates sukses mementaskan drama yang apik tentang the art of principle (seni mempertahankan prinsip) yang gaungnya terus terdengar dari zaman ke zaman.

* * *

Mungkin hal terbodoh yang dilakukan manusia adalah menginginkan sesuatu yang tak mungkin didapatkannya.
Memulai sesuatu hal yang tidak mungkin bisa diakhirnya.
Menghadapi pertarungan yang tidak mungkin dimenangkannya.

Tapi benarkah semua pilihan yang telah dibuat dan diyakini tersebut itu benar-benar akan sia-sia?

Sebagian orang mungkin memandang orang lain yang meyakini pilihan yang tak mungkin tersebut bodoh. Sebagian lagi mungkin menyebut itu hanya membuang-buang waktu.

Namun aku lebih suka menyebutnya harapan. Ya harapan.
Bukankah manusia hidup dengan harapan demi harapan.
Kita tak pernah tahu apakah besok masih hidup atau mati, tapi setiap malam kita mengatur alarm untuk membangunkan kita di pagi hari.
Lantas, kenapa tidak berani berharap yang lebih tinggi?
Bukankah tidak ada yang benar-benar pasti selain mati? Semua hal selalu 50:50. Bisa iya, bisa tidak.

Untuk setiap akibat dari pilihan yang dibuat ataupun hal yang diyakini. Entah itu kesedihan, luka dan hilangnya waktu karena kita tidak akan bisa kembali adalah harga yang pantas dibayar untuk setiap harapan yang dinyalakan.

“Karena jauh lebih baik mengetahui semua itu tidak akan pernah didapatkan setelah mengerahkan upaya semampunya, ketimbang berbisik ke hati dan berkata itu tidak mungkin tanpa pernah mencoba”.

Advertisements