Sialkah bagi besi yang berkarat?

by saukani muhammad

Idza ahabballhu ‘abdan, ibtalah
Apabila Allah mencintai hamba-Nya, maka ia akan mengujinya.

Begitulah ucapan Rasulullah SAW yang disampaikan berulang kali oleh Guru kepada kami murid-muridnya, seakan mengisyaratkan kepada jiwa-jiwa yang rapuh ini untuk selalu berdiri dengan teguh dan tersenyum menatap dunia.

Tak ada yang salah dengan semua bentuk kasih dan cinta Tuhan, kita lah yang sering salah mendefinisikan kebaikan, kasih dan cinta dari Tuhan. Kita terlanjur mendefinisikan bahwa cinta selalu berbentuk anugerah serta keindahan. Bukankah kata Tulus dalam lirik salah satu lagu nya bilang bahwa “Cinta memang banyak bentuknya”?

Hadiah memang kadang tak selalu terbungkus dengan indah. terkadang Tuhan membungkusnya dengan masalah, tapi di dalamnya ada hikmah dan barokah. Begitu kata @itslunae, salam buat mu mbak.

Apakah sial bagi besi yang berkarat?
Apakah sial bagi besi yang berkarat yang terus ditempa?
Apakah sial bagi besi yang berkarat yang terus dibakar dan dipanaskan dengan bara?
Apakah sial bagi besi yang berkarat yang terus dipukul sedemikian rupa?
Besi yang berkarat memang harus ditempa, dibakar, dipukul untuk menjadikannya sebuah samurai yang tajam, indah dan mengkilat. Kata Guru ku lagi, seakan sebuah tinju untuk membangunkan gairah jiwa yang lemah ini.

Bahagia saja menjalani setiap episode proses pembelajaran kehidupan.
Karena mereka yang beruntung adalah mereka yang mampu mengerti dan memahami esensi kehidupan.

Masih ingatkah saat masih duduk di sekolah dasar, kita paling takut dengan yang nama nya tukang urut? Dan sekarang, malah kita yang menyerahkan diri pergi ke tukang urut saat badan terasa lelah atau pegal.
Rasa sakit yang dulu pernah dirasakan dan ditakuti hanya karena belum mengerti.
Belum mengerti bahwa rasa sakit yang sementara itu menyembuhkan.

Lantas…

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. – Rumi

Advertisements