Aku Benci Menua

by saukani muhammad

Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya. Beberapa dentingan notifikasi pesan yang masuk di handphone nampaknya cukup mengganggu tidur kali ini.

Ku coba untuk bangun lalu duduk di samping tempat tidur.
Tenang, sunyi, senyap.. Hanya ada suara detik jam dinding yang menemani. Sesuatu yang sangat damai dan sangat aku sukai.

Ku tengok jam jelek yang ada di atas pintu kamar tempat asal muasal suara detik yang setia menemani itu. Dan ya, seperti yang telah ku duga memang ini terlalu pagi, jam butut  menunjukkan masih pukul 3 lewat 40 menit.

Dilema, antara masih mengantuk dan tak dapat memejamkan mata kembali.
Lantas ku coba membuka beberapa pesan yang masuk dan mengganggu tadi. Aku pun tersenyum..
Pesan-pesan ini ternyata hanya berisi ucapan selamat dan do’a.

Ya.. ternyata hari ini ulang tahun ku. Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya hingga aku masih diberi nafas sampai 19 agustus 2014, sejak 19 agustus 1991. Oh wait, Apa aku sudah terlalu tua?

Dingin nya suasana di pagi buta itupun semakin terasa hampa, sesaat kembali teringat mama. Ingatan ini masih segar, bagaimana dia mencoba mengingatkan adik-adik ku untuk sekedar mengucapkan selamat di hari ulang tahun beberapa tahun lalu.
I just still can’t believe it, sekarang aku menghadapi dunia tanpa nya. Sesuatu yang sangat aku takutkan saat aku terus menua.
Tak pernah terbayang akan melalui hari-hari tanpa nya.

Aku benci menua, saat aku mulai merasa malu untuk sekedar berbagi cerita dengan nya kemarin.
Aku benci menua, saat aku kehilangan waktu untuk sekedar menghabiskan teh hangat dan menonton televisi bersamanya kemarin.
Aku benci menua, saat aku merasa sudah dewasa lantas menjadi sok pintar berargumen dengannya kemarin.
Aku benci menua, saat aku merasa mampu menjaga diri lalu berharap agar dia tidak perlu mengkhawatirkan ku kemarin.
Aku benci menua, saat aku membuatnya terjaga dari tengah malam sampai pagi hari hanya untuk menunggu aku pulang kemarin.

Aku benci menua..

Karena mungkin badan ini telah tumbuh besar dan pikiran ini berkembang..
Tapi aku tetaplah anak kecil nya mama.
Anak kecil nya yang selalu membutuhkan pelukan hangat nya.

Advertisements