Refleksi kehidupan Semar

by saukani muhammad

20140725-084650-31610874.jpg

Bagi Semar.. tak ada senang tak ada susah, tangisnya telah melebur di dalam tawa, tawanya telah mencebur dalam samudra tangis

Sebagai seorang asli Banjar yang selama ini menghabiskan waktu di kampung halaman saja tentu merupakan hal yang wajar apabila saya bukan seorang yang tau dan mengerti tentang wayang. Padahal menurut Wikipedia, Wayang sudah masuk ke Kalimantan sejak tahun 1300 saat Majapahit menguasai Tjilik Riwut. Namun sangat disayangkan Wayang memang kurang dapat berkembang di Kalimantan. Salah satu kendalanya adalah bahasa, seperti yang diketahui Wayang menggunakan reptoar dan ideom berbahasa Jawa yang tentu tidak dapat dimengerti masyarakat lokal. Terlebih saya seorang dari generasi 90an, waktu kecil saya lebih banyak untuk mengumpulkan Tazos dan melihat Doraemon ketimbang melihat pertunjukan wayang.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya mungkin tidak mengerti wayang namun saya tidak dapat menolak ketertarikan terhadap watak seorang Semar dalam sebuah Wayang Twit Sudjiwotedjo.
Saya tidak tau siapa Semar dan bagaimana perannya dalam wayang, tapi entah kenapa saya mengaggumi saja bagaimana Semar versi Sudjiwotedjo.

Semar dinarasikan menjadi pribadi dewasa, ikhlas serta sangat mengetahui tingkah laku Tuhannya, sehingga setiap yang tampak pada dirinya kadang bukan yang sebenarnya.

Seperti petikan diawal, bagi Semar tak ada senang dan tak ada susah, tangisnya telah melebur di dalam tawa, tawanya telah mencebur dalam samudra tangis.

Seandainya orang biasa hanya tertawa saat mereka bahagia, Semar malah menangis saat merasakan kebahagiaan. Semar akan menangis karena dalam jiwa nya akan selalu bertanya, bertanya apakah kebahagiaan ini maya atau fana? apakah kebahagiaan ini nyata atau fatamorgana? apakah kebahagiaan ini akan terus menerus? apakah kebahagiaan ini akan terulang?

Dalam pengagungan terhadap sang khaliq, Semar berbeda dengan Yudhistira yang mempunyai waktu tertentu untuk sembahyang. Semar beribadah pada Tuhan-Nya setiap saat. Saat bercanda, tidur, berkerja, berkeluarga bahkan bercinta semua menjadi wujud pengagungan dan penyembahan Semar pada Tuhan-Nya.

Oleh karenanya, saat seseorang mampu ikhlas seperti Semar maka…
Saat bercanda, dia mengabdikan diri sepenuhnya untuk membuat orang lain bahagia. Tidak penting orang lain tertawa bersamanya atau bahkan menertawakan nya, selama membuat orang lain bahagia it doesnt matter.
Saat tidur, dia mengabdikan diri untuk terhindar dari perbuatan sia-sia dan pure untuk beristirahat agar saat terbangun keesokan harinya dia kembali mampu mengabdikan diri nya pada Tuhan-Nya.
Seandainya Semar berkerja dan berkeluarga, dia tulus mengabdi mencari nafkah halal untuk diri dan keluarga nya.
Seandainya Semar merupakan seorang pedagang, dia bukan hanyar mencari untung namun dengan niat tulus membantu memudahkan orang lain yang membutuhkan barang dagangan nya.
Bahkan kata mbah, seandainya Semar ngetwit sekalipun menjadi suatu bentuk pengagungan pada Tuhan nya.

Begitulah Semar, semua perilakunya, tindakannya, perkataannya bukan hanya yang tampak kasat mata.

Sebagai seorang yang sebenar-benar hamba, Semar tak akan pernah sanggup untuk sekedar melontarkan keluhan terhadap Tuhan-Nya. Terlalu malu bagi nya yang telah diberikan anugerah begitu besar untuk lancang mempertanyakan suatu ketentuan Tuhan nya.

25/07/14

Advertisements