Puzzle yang hilang (dari mereka)

by saukani muhammad

“Seandainya si kaya lebih peka, si miskin mungkin tidak perlu merendahkan dirinya di pinggir jalan-jalan kota…”

Sebagai mahkluk yang mempunyai akal dan perasaan, manusia rasanya tidak perlu dalil-dalil Tuhan untuk menjungjung tinggi nilai kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, meski diperdengarkannya firman Tuhan, manusia ternyata masih bisa lalai.

Sebagian orang membeli tas jutaan rupiah hanya untuk dipakai ke kondangan, sedang sebagian lainnya memelas kasihan untuk dapat makan.

Sebagian orang melakukan aktifitas belanja untuk menghilangkan stress, sedang sebagian lain stress karena tidak dapat belanja untuk sekedar membuat asap dapur mengepul.

Entah kemana rasa kebersamaan dan sepenanggungan yang selalu digaung-gaungkan.
Rasa nya, semakin modern kehidupan, semakin tergeser kebersamaan dengan keindividualisan.
Manusia modern seakan hanya peduli dengan diri sendiri dan inner cycle nya saja.
Pada akhirnya, kembali seleksi alam terjadi. Yang beruntung yang menang, yang malang yang hilang

Mereka harus memelas dipinggir jalan terlebih dahulu baru diberi makan.
Mereka harus melepas harga diri terlebih dahulu untuk mendapatkan hak mereka.

Sangat miris. Kadang dalam hati, kita pun masih sempat merasa risih dengan adanya mereka di perempatan jalan.
Tidak sadar, karena kealpaan kita mereka sampai menjemput receh di jalan-jalan ibu kota.

Tentu tidak akan diberikan-Nya kita kelebihan, kalau tidak untuk menutupi kekurangan mereka.
Kita lah jawaban dari do’a-do’a yang keluar dari mulut kering mereka.

Kehidupan adalah rangkaian puzzle, dan kita lah puzzle yang hilang dari kehidupan mereka.

Advertisements