Pilihan ketiga!

by saukani muhammad

Dan akhirnya hari itu tiba. 9 April 2014, pemilihan umum kembali di gelar serentak di seluruh indonesia. Pesta demokrasi katanya. Namun apakah memang ini suatu pesta?

Seperti yang terjadi di linimasa, di dunia ini selalu ada pro dan kontra.

Kita dihadapkan ke suatu dilema, berpartisipasi dalam pemilu kali ini atau tidak.
Dan tentu semua mempunyai alasan dan argumen masing-masing.

Pemilih berkata bahwa masih ada Caleg yang baik, jujur dan berkompetensi untuk duduk di Senayan, dan selalu ada harapan katanya. Mengambil sedikit resiko untuk cita-cita perubahan Indonesia.

Namun fakta nya, partai dan caleg kian fragmatis.
Apa ada kampanye dengan benar-benar “bermasyarakat” mengetuk pintu demi pintu untuk menyampaikan program nya? Boro-Boro itu kayak nya. Mereka lebih memilih berorasi dan menampilkan pentas dangdut di hadapan masa bayaran mereka sendiri tho? Dan saat Hari-H serentak serangan fajar minta dipilih. Shame on you!
Mereka pun lebih menyukai mengambil public figure seperti artis dengan visi misi ngambang untuk mendongkrak suara dibanding meningkatkan kualitas mereka.

Dan bagi yang memilih menjadi golput, sudah terlanjur apatis dan tidak percaya terhadap politik di Indonesia secara keseluruhan. Tidak mungkin kita bisa membersihkan lantai yang kotor dengan sapu yang kotor katanya. Kalo pun ada yang harus disalahkan ya tentu Partai. Kenapa mereka hanya mendekati masyarakat saat hendak digelar nya pemilu. Kemana aje 5 tahun ini?

Tapiii… Memilih atau tidak memilih semua punya konsekuensi dan resiko, right?

Setelah saya teguh berada di kubu Pemilih, saya mencoba berempati dengan mencoba memasuki pikiran seorang Golput. Karena memang saya pun bahkan belum punya NAMA CALON LEGISLATIF ideal untuk dipilih 9 April nanti.

Saya menyadari, bagaimana bisa kita memberikan suara kepada seseorang yang kita tidak kita kenali. Hari-hari saya terlalu sibuk untuk ngepoin caleg-caleg atau kroscek rekam jejaknya. Elaaah, revisi-an skripsi aja belum kelar mau urusin negara. 😐 #pait

Tapi, sepert tulisan @newsplatter di blog nya, ini lah jawaban nya. Inilah alasan saya mengikuti pemilu sejak tahun 2009.

Saya memilih bukan karena mengenal Caleg nya, menyukai program nya atau percaya 100% dengan Partai nya. Namun saya memilih menekan segala resiko kemungkinan terburuk.

Meminjam istilah @newsplatter di blog nya,
“Dengan asumsi semua pilihan jelek, gw akan memilih yang paling kurang jelek. Memilih “the least evil” di antara semua yang “evil”.

Yup ini lah jalan keluar diantara memilih dan golput. Karena saat golput pun, pemilu akan tetap berlangsung kan?
Bahkan secara halus kita akan mempersilahkan para bandit atau makelar duduk di Senayan. Why? Karena mereka bisa beli suara sebagian orang.
Dan saat suara kita sia-sia kan, tentu mereka dong yang menang?
Terlebih saat surat suara itu masih perawan bukan tidak mungkin surat suara tersebut disalah gunakan.

Bagaimana kalo kita bersama mencegah itu? Kita tekan kemungkinan terburuk yang akan terjadi? Kita minimalisir segala resiko
Jangan pilih Caleg yang di-back up sama perusahaan. Why? karena anjing akan selalu menaati majikan. Saat majikan nya ngasih dana buat dia kampanye, ya pas udah naik akan bales budi dong?
Jangan pilih Caleg yang bagi-bagi duit ke masyarakat di sekitar rumah kita. Sudah pasti, saat mereka memberi sedikit mereka akan mengambil nya lebih banyak lagi. Trust me.
Jangan pilih Partai atau Caleg yang rekam jejak nya sudah ketahuan jelek belang nya. Mau usaha dikit nengok? Silahkan liat rekam jejak dan data caleg dapil kamu disini. kepoin caleg

Kita tidak mau dipimpin oleh bandit, makelar, tukang mark up projek, penikmat fasilitas negara buta, tukang bual dan semua politisi busuk.

Karena saat kita tidak memilih pun tidak berdampak positif juga, bagaimana kalo kita mengambil sedikit resiko untuk mengurangi resiko yang kita ketahui?

Advertisements