Open your heart and make your move!

by saukani muhammad

Anak muda dan Politik, ini merupakan suatu hal yang dianggap tidak serasi. Banyak dari kita yang apatis terhadap negeri ini salah satu nya apatis terhadap dunia politik yang terjadi. Tentu selalu ada api dibalik adanya asap. Kita tidak bisa menyalahkan seseorang memilih menutup mata dan telinga terhadap politik karena muak dengan politisi-politisi busuk yang ada di negri ini. Tak terkecuali saya sendiri, dulu. Namun, bisa dibilang missed ini semua hanya karena kita tidak mengenal, tidak ikut terlibat dan tidak peduli, akibat nya kita hanya bisa men-judge dari luar.

Mengutip pernyataan Abetnego Tarigan sewaktu menjadi pembicara di Banjarmasin, Perubahan mustahil terjadi dari atas lalu turun kebawah. Perubahan dapat terjadi melalui bawah.”.

Oleh karena itu, anak muda lah yang bisa mengubah wajah muram negeri ini. Karena kita lah pemuda yang sebenarnya menjadi motor dari suatu bangsa dan negara. Bukan kah bangsa ini berdiri dan merdeka karena kegelisahaan pemuda-pemudi jaman dulu?

Dengan segala berkah dan kenikmatan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita melalui negeri ini, masih kah kita berusaha untuk terus menutup mata dan telinga? Masihkah kita berpikir -Selama permasalahan negara ini tidak mengganggu inner cycle kita- kita hanya diam? Seperti kata @Pandji, Bangsa ini terlalu kompleks hanya untuk diurus oleh pemerintah. Oleh karena itu sudah saat nya kita -anak muda- ikut terlibat.

Perubahan yang massive selalu dimulai dengan merubah diri sendiri. Merenung lah dan buka hati, mata dan telinga. Mulai lah perubahan dengan peduli terhadap sekitar kita.

With all due respect, Kenapa kita anak muda bisa merubah wajah Indonesia tercinta ini? Dari data yang saya peroleh dari @AyoVote, menurut perkiraan terakhir jumlah VOTERS muda (kisaran umur 17-30thn) yang mempunyai hak suara dalam Pemilu nanti berkisar 55juta orang atau setara 30% total suara. Bayangkan kalo 30% total suara tersebut kita berikan kepada orang yang salah, maka jangan kembali kaget kalo para bandit berdasi berjiwa makelar kembali menduduki dewan terhormat di negeri ini. Untuk yang memilih menjadi putih (Golput, tidak memilih di Pemilu) tidak ada yang salah, namun dengan begitu kita sama saja mempersilahkan orang-orang tidak kompeten untuk menjadi dewan terhormat negeri ini karena mereka bisa membeli suara masyarakat lain nya. Toh apakah dengan memilih golput lantas tidak akan ada lagi pemilu? engga. Saya pribadi, mending mengambil sedikit resiko dengan memilih seseorang yang dirasa kompeten untuk mewakili diri saya ketimbang menyerah diawal, toh dengan tidak memilih pun pasti nanti ada yang naik. Kenapa kita tidak coba meminimalis resiko? Resiko dewan terhormat diisi para penjahat?

Apa ada yang mau diwakili oleh mereka yang cuma makan gajih buta, berangkat ke kantor dengan –maafkan perkataan saya– otak kosong, lantas tanpa rasa bersalah serta rasa malu duduk di dewan terhormat serta menikmati segala fasilitas berlebihan negara tanpa sumbangan pikiran untuk kemajuan bangsa serta kesejahteraan masyarakatnya? Mereka hanya memikirkan diri sendiri, keluarga dan partai atau golongan mereka. Mereka memperkaya diri sendiri, plesiran keluar negeri bersama keluarga nya, me-mark up proyek lantas menutup mata terhadap rakyat nya yang merintih kelaparan dan tidak punya tempat tinggal.
Rela kah kita?

Seperti kata seseorang di timeline twitter saya (yang lupa nama akun nya), Janganlah menjadi pesimis di awal, lalu teriak-teriak “kesakitan” setelahnya.

Ingat! Saat kita b enar dalam memilih wakil kita (Wakil Rakyat) kita tidak perlu lagi turun ke jalan, berorasi, bakar ban, mengarahkan masa untuk mengeluarkan aspirasi kita. Karena aspirasi kita tentu disampaikan oleh wakil kita yang kompeten tersebut lebih dulu.

Dan.. Sudah saat nya kita sebagai anak muda yang cerdas, mempengaruhi orang terdekat kita yang mempunyai hak suara bahwa jangan sampai memilih karena serangan fajar politik uang (money politic). Suara kita, diri kita.. itu terlalu berharga untuk uang 50.000 rupiah.

Dengan merekan memberi sejumlah uang untuk kita, saat mereka terpilih mereka akan mengambilnya lebih banyak. Catat!

Dan jangan pernah memilih seseorang wakil yang merupakan perpanjangan tangan dari perusahaan-perusahaan nakal, ingat saat mereka terpilih mereka akan membalas budi tuan nya. Karena anjing akan selalu patuh kepada majikan nya.

Diakhir, saya akan memberikan sedikit kutipan tulisan Pandji Pragiwaksono di blog nya yang membuat adrenalin saya naik memuncak.
Para bandit, panik.

Mereka takut, kalau semakin banyak orang bergerak bukan karena uang, semua uang mereka jadi tidak ada gunanya.

Mereka takut, permainan politik uang sebagai satu satunya strategi politik yang mereka kuasai, jadi percuma.

Mereka takut, karena belakangan semakin banyak yang menolak ketika ditawari uang untuk mendukung seseorang. Dan bukan sembarang orang, tapi mereka yang punya pengaruh.

Mereka takut, rakyat Indonesia jadi semakin cerdas.

Mereka takut, rakyat Indonesia jadi bersatu karena sebuah impian dan terlebih lagi, berani untuk turun tangan dan mewujudkan impian itu.

MAKE YOUR MOVE!

Advertisements