Setitik embun di awal tahun Hijriah, 1435 H

by saukani muhammad

20131106-124749 AM.jpg

Memecah subuh melewati jalan-jalan kota untuk kembali kerumah…

Segar nya udara di subuh hari memang selalu memberikan sensasi kenikmatan berbeda.
Seakan mengerti dengan letih nya hari yang telah dijalani kemarin, alam kembali menyegarkan diri yang gersang ini lewat fenomena indah subuh.
Entah mengapa, selalu jatuh cinta dengan subuh walau kadang kasur di kamar beserta teman-teman nya sering memasung diri untuk menyaksikan keindahan subuh…

Subuh ini merupakan hari baru, bulan baru dan tahun baru. 1 muharram, masih dikasih nikmat untuk menghirup kembali udara dengan mesra. Entah kapan salah satu bentuk kemurahan-Nya ini akan berakhir.

Sekedar oase hijriah..
1435 tahun yang lalu, seorang manusia terbaik sang penghulu para nabi hijrah dari Mekkah menuju Madinah.
Tidak mudah bagi beliau dan para sahabat pergi dari kota Mekkah. Selain upaya terror dan makar keji yang dilancarkan kafir Mekkah pun secara psikologis beliau dan para sahabat berat meninggalkan Mekkah karena sangat mencintai Mekkah. Tidak mudah meninggalkan tempat kelahiran, kampung halaman, harta benda bahkan anggota keluarga begitu saja.

Setelah beberapa sahabat hijrah secara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khattab terror pun memuncak sampai dengan percobaan pembunuhan. Mereka tidak rela beliau pergi dari kota itu dengan mudah dan hidup beragama dengan aman di Madinah.
Setelah ada izin dari Allah SWT untuk hijrah, tibalah saat nya bagi beliau hijrah.
Ditemani Sahabat Abu Bakkar Asshidiq beliau hijrah dari Mekkah setelah melakukan strategi dengan bermalam tiga hari tiga malam di gua Tsur menunggu keadaan kondusif untuk hijrah.

Dan sekarang setelah seribu empat ratus tiga puluh lima tahun dari peristiwa hijrah, cukuplah kita ikut berhijrah dari bodoh menuju berilmu, dari gelap menuju cahaya, dari keburukan menjadi baik, dari pribadi yang sekarang menjadi lebih baik kedepan.

Dari Umar ibn Khattab, Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda :
Setiap amal itu disertai dengan niat, setiap amal seseorang tergantung pada apa yang diniatkannya, karena itu siapa saja yang hijrah nya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah nya tertuju pada Allah dan Rasul-Nya, tapi siapa saja yang melakukan hijrah karena kepentingan dunia yang akan diperoleh nya atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrah nya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuan nya. (Muttafaq Ilaih, dalam Riyadhus shalihin Imam Nawawi)

* * *

Seolah menjadi jiwa yang baru di tahun yang baru otak pun di refresh sejenak, mencoba untuk kembali berpikir tentang begitu banyak sudah nikmat yang didapat diri ini dari masih dalam kandungan bunda sampai sekarang. Begitu banyak pula waktu yang sudah dilewati dari orok sampai sekarang.
Dengan nikmat yang begitu banyak apa saja yang sudah diri dan jiwa ini kasih kepada Dia yang telah memberi nikmat?

Mungkin sudah saat nya malu, malu tentang betapa besar diri ini sudah diberikan anugerah-Nya namun sangat kecil amal yang dilakukan. Timpang.

Sudah saat nya pula kita restart kembali diri-diri yang terlena ini untuk fokus kembali ke visi misi kehidupan sesungguhnya. Untuk apa diri-diri ini diciptakan?

Mungkin, manusiawi kalo memang diri-diri kita yang bergejolak ini terlena sesaat dengan akan permainan yang menarik hati. But, remember.. dengan hadir nya tahun yang baru berarti semakin sedikit pula sisa-sisa umur ini.

Kata M. Faudzil Adhim di akun twitter nya @kupinang “Dan kita akan menuju batas akhir yang bernama mati. Alangkah dekatnya ia. Dan terus mendekat kepadamu. Sesudahnya, perjalanan tanpa henti.”
Thats true!

Bangunkanlah kembali jiwa-jiwa yang tertidur ini, bisa jadi “deadline” yang dijanjikan-Nya itu besok? malam ini? sore ini? atau satu detik kedepan… Who knows?
Mungkin kita disini pernah mengantar jenazah ibu, bapak, saudara bahkan teman sepermainan ke liang kubur, akan ada saat nya pula itu kita yang diantar kan kesana…

Ingat kembali, tentang jiwa ini yang sebenarnya cuma dikasih titip. Sudah menjadi “sifat” dari sesuatu titipan untuk pada suatu waktu akan diminta empunya untuk kembali.
Dan saat itu datang, apakah kita mengembalikan nya dengan kondisi yang baik atau ternyata rusak? Dan pada saat nya nanti ada konsekuensi setelah itu.

Tidak penting kata ukhti Anin Narulita kapan kah kematian itu datang, namun lebih penting bagaimana keadaan kita saat bertemu dengan kematian.

Once again, diri kita ini merupakan Author dari Buku kita sendiri, tidak hendak kah untuk menuliskan akhir yang bahagia di bagian terakhir buku kita?

even…
Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk Rasulullah SAW, beliau masih saja berdiri di waktu-waktu sepi malam hari…
Hingga pernah terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Seakan mencerminkan fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.

Lalu ditanya oleh Ummul Mukminin Sayyidatina Aisyah :
“Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah?”

Lalu dijawab mulut beliau mulia dengan lunak.
“Ya Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Semoga diri dan jiwa kita yang sempat tertidur dan terbuai mimpi ini bangkit. Bounce back!
Hari baru, tahun baru, jiwa baru.

Seseorang yang hebat menurut saya pribadi bukanlah seseorang yang memiliki segala nya atau mendapatkan segala nya, namun seseorang yang mampu melewati waktu dengan berubah menjadi pribadi lebih baik, tak ada waktu yang dilalui nya kecuali dirinya menjadi lebih baik.

Wallahu a’lam bishawab.
1 Muharram 1435 Hijriah.
Saukani, Muhammad

Advertisements