Love is a Four Letter, Married? Four variables

by saukani muhammad

20131017-101738 PM.jpg

Pukul 4.16pm
Matahari seakan tersipu malu ditutupi awan-awan putih, setelah dengan capai memberikan kehangatan sejak tadi pagi.
Sore yang teduh ini semakin terasa teduh karena ditemani lagu-lagu easy listening yang diputar lewat handphone.

Teringat pengajian Jumat malam kemarin, ada yang ‘numpang’ menikah di pengajian. Dan Guru diamanahkan sang Ayah Wanita untuk menjadi wali wanita. Tiba-tiba senyum-senyum sendiri membayangkan kalo sang ikhwan yang berbahagia itu aku. Hehehe
Tak ada yang lebih baik ketika saling mencintai itu menikah.

* * *

LOVE, is a Four Letter.
Cinta? Hehehe, Terlalu rumit nampaknya untuk menjelaskan hal yang satu ini. Karena memang cuman ada di hati letak nya, rangkaian kata-kata tidak akan bisa menggambarkan dan menjelaskan secara tepat apa itu cinta.

Merupakan fitrah manusia berkasih-sayang, cinta-mencintai. Tentu ini merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Ar-Rahman & Ar-Rahim. Kita dianugrahkan perasaan kasih sayang dari Yang Maha Pengasih diantara pengasih, Yang Maha Penyayang diantara penyayang. Selain itu diciptakan pula kita ini berpasang-pasangan untuk saling menyempurnakan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.S. Maryam [19] : 96)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Di antara tanda-tanda keagungan Allah ialah, Dia menciptakan bagimu, dari jenismu sendiri, pasangan-pasangannya, supaya kamu hidup tenteram bersamanya, dan dijadikan Allah bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum [30] : 20-21).

Dan hanya satu cara mempersatukan dua Insan yang saling mencintai tersebut, yaitu Nikah. Merupakan sunnah Nabi Shalallahu’alaihi wassalam beserta Nabi dan Rasul sebelumnya perkara menikah ini.

“Ada empat hal yang termasuk sunnah para Rasul : malu, memakai wangi-wangian, siwak dan menikah” (HR. Turmudzi).

Beruntunglah ikwan yang kemarin malam mengucap ijab-qabul, selain mengerjakan perkara sunnah dan hal yang disukai Nabi.

“Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat.” HR – Ahmad.”

Pun sempurnalah agama ikhwan kemarin. Bukankah menikah itu menyempurnakan separuh agama?

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Bahkan 2 rakaat sholat nya seorang yang sudah menikah lebih utama dibanding dengan 70 rakaat seorang yang masih sendiri. Haduh jombs! 😦

“Dari Abu Hurairah
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)”. (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil).”

Kita yang muslim, saat mau masuk toilet aja ada adab dan tata caranya apalagi dengan memilih pasangan hidup atau menikah?
Yeup, Nabi Shalallahu’alaihi wassalam sudah ngasih kisi-kisi gimana mencari pasangan hidup agar beruntung.

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani).”

“Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata:
“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena
hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung.”
HR. Bukhori : 5090 – HR. Muslim : 1466″

Ini lah pesannya kepada kita saat hendak memilih pendamping, teman seumur hidup, pasangan sehidup semati dan tentu dunia akhirat.

Logis, karena empat variabel ini lah sesorang biasanya memilih pendamping hidup dan memutuskan untuk menikah dengan nya.

Pertama harta (kekayaan/materi).
Pernah denger isi dompet is everything? Hehehe kata nya sih untuk masa depan yang cerah. Realistis memang, tapi yakin harta bisa menjawab seluruh permasalahan hidup? Yakin apakah kekayaan nya itu akan terus membersamai kita? Think again. Bukankah variabel harta atau kekayaan ini hanya titipan dari-Nya? Dan sudah tentu titipan itu tidak selamanya dan suatu saat bisa diambil Sang Empunya. Segala yang ada di dunia ini gak ada yang pasti. Tidak ada kepastian kita selalu berada di roda bagian atas. Dan andai suatu saat harta tersebut sirna, bagaimana?

Kalo memang kaya raya sekaligus shaleh dan shalehah atau kaya raya sekaligus perangai dan akhlak nya baik tentu kita beruntung, kalo tidak?

Dalam hadits lain Nabi mengisyaratkan bahaya membersamai karena variabel harta. Menikahi seseorang karena harta takut nya dia akan berlaku melampaui batas, angkuh, sombong, semena-mena.
Mau punya pasangan kaya raya, tapi tidak dihargai? Haaayaaaah~

Variabel ke dua karena kedudukan.
Kedudukan bisa merupakan status sosial, tahta juga nasab/keturunan. Memang dianjurkan memilih pasangan melihat keturunan nya, apakah dari keluarga yang baik-baik atau tidak. Karena keluarganya lah cerminan lingkungan terdekatnya. Dan biasanya watak atau perangai seseorang tidak akan jauh berbeda dari orang tua nya. Tapi seorang dari keturunan yang baik-baik tidak serta merta mencerminkan pribadi nya baik, begitu pula sebalik nya. Untuk itu, ga jadi jaminan kedudukan yang bagus menjadikan seseorang yang berakhlak bagus juga.
Jaman Jahiliyah sangat jelas diskriminasi tentang kedudukan, bagaimana Bangsawan dengan hamba sahaya diseparasi secara jomplang. Dan setelah Islam masuk, seorang ayah tidak lagi menikahkan putri nya karena melihat kedudukannya di masyarakat namun agamanya. Sama seperti harta, perihal tahta juga cuma titipan yang suatu saat bisa diambil Dia yang berkuasa, kapan pun Dia kehendaki.
Ada celotehan, kamu nikah dengan dia anak nya bukan dengan orang tua nya. That’s right! Maka lebih utama lihatlah perangainya baru keluarganya.

Variabel ketiga, keelokan paras.
Sadar atau tidak memang keelokan dan keindahan paras kadang menjadi salah satu sebab kita jatuh hati. Tidak bisa dipungkiri, karena merupakan fitrah kita sebagai manusia menyukai keindahan. Dan kita pun tidak salah menyukai keindahan, hanya saja saat menyukai karena eloknya paras seseorang lantas tidak mengesampingkan sisi lain dari nya. Apakah agamanya benar? Bagaimana akhlak dan perangainya? Percuma kita membersamai seseorang yang indah paras nya namun kepribadiannya tidak secantik atau seganteng wajahnya, apalagi agamanya tidak benar.

“Dan janganlah kamu me­nikahi perempuan-perempuan mu­syrik sebelum mereka ber­iman, sesungguhnya budak perem­puan mukmin lebih baik daripada perempuan musyrik walau ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan perempuan mukmin) sebelum mereka beriman.
Sesung­guhnya budak laki-laki yang beriman lebih baik daripada orang musyrik walau ia menarik hatimu, mereka mengajak ke nereka, sedang Allah SWT mengajak ke surga dan am­punan dengan izin-Nya. (QS. Al-Baqarah: 221)”

Walau dia menarik hati karena keelokan parasnya, tapi kepribadiannya buruk tentu merupakan sia-sia.
Boleh jadi dia cantik/ganteng tapi perlakuannya kasar, lidah nya suka berbohong sehingga tidak dapat dipercaya, pandai menggoda pria/wanita lain dengan kelebihan paras yang ia miliki.
Buat apa?

Sama seperti variabel harta dan kedudukan begitu pula keelokan paras, ini semua tidak selamanya dimilikinya. Bisa saja keelokan paras itu binasa. Mungkin sekarang dia cantik atau ganteng, bertahun-tahun kedepan gimana? Apa masih secantik atau seganteng sekarang? Anyway, secantik atau seganteng gimana pun, pada nanti nya akan keriput juga kan?
Nah saat sudah begitu cuma perangai, kepribadian dan akhlak nya lah yang berperan.
Paras yang elok akan sirna dimakan waktu, namun tidak dengan perangai, kepribadian dan akhlak nya.

Dan yang terakhir karena Agama
“..dan pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung.”

Kenapa kita disuruh agar mengutamakan karena agamanya? Sangat jelas, seseorang yang benar dalam beragama dan sungguh-sungguh mendekap agama nya tentu akan mempunyai berbagai kebaikan. Entah itu perangai, akhlak, kasih sayang dan taat.
Wanita yang beragama dengan sungguh sudah pasti akan taat kepada suami. Dan pria yang beragama dengan sungguh sudah pasti akan memperlakukan wanita nya dengan sebaik-baik nya perlakuan.
Why? Karena seseorang yang beragama dengan sungguh-sungguh akan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh karena ketaatanya kepada Allah dan Rasul-Nya dia pun akan berlaku baik kepada pasangan nya.

Tidak ada keraguan memilih dia yang sungguh-sungguh dalam beragama, karena kita membersamai mereka yang terpaut hati nya dengan Allah dan Rasul-Nya. Dan tentu suatu keberuntungan karena bisa saling membersamai dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Teringat kembali tweet dari seseorang di tab favorite akun pribadi. “Carilah pasangan yang rajin beribadah. Jika dia berani meninggalkan pencipta-Nya, maka dia berani meninggalkan-mu…”
That’s true! Kalau sudah Tuhan nya saja ditinggalkannya dan tidak dihiraukannya apalagi kita pasangan nya?

Kalau sudah Nabi yang mulia Nabi Shalallahu’alaihi wassalam bilang ini lah yang nanti nya akan beruntung, maka memang ini lah yang akan beruntung.
Kita bisa saja menolak perkataan siapa pun, tapi tidak dengan perkataan yang keluar dari mulut yang mulia Baginda Shalallahu’alaihi wassalam.

* * *

Guru bilang, ruh yang baik-baik sudah tentu akan tertarik terhadap ruh yang baik-baik pula. Begitu pula sebaliknya. Kata Ustadz Salim, kita adalah satu ruh, namun tinggal di jasad berbeda.

Don’t you remember? pasangan kita merupakan cerminan diri kita.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, Laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula).
Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, Laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).
QS. An Nuur : 26 “

* * *

Selewat tweet di Timeline, kurang ingat persis nya gimana tapi makna yang masih sama…
kadang kita mencari yang sempurna, terlupa bahwa tidak ada yang sempurna.
kita lupa bahwa sebenarnya kita tidak butuh yang sempurna namun saling menyempurnakan…

Wallahu a’lam bishawab
SM, 14 Oktober 2013

Advertisements