Kamu Akan Bersama Orang yang Kamu Cintai

by saukani muhammad

Disuatu negri ada sebuah Istana, yang begitu megah, besar, indah dan tentu banyak kenikmatan di dalam nya. Etsss, mencapai nya ga sembarang orang, juga ga sembarang jalan karena cuma ada satu jalan yang benar menuju kesana yaitu jalan Tol. Seperti yang kita ketahui tentang jalan tol, hanya mobil saja yang boleh lewat.
Yang ga punya mobil ga bisa lewat.

* * *
Istana tersebut surga-Nya Allah SWT, dan jalan nya adalah jalan Rasulullah SAW, mobil tersebut yaitu Amal dan Ilmu dari orang-orang shaleh.

Cintai Allah SWT
Yuk kita pikir kembali, seandainya kita mempunyai rumah. Apakah kita dengan seenaknya menerima orang, menyambutnya dengan hidangan yang kita miliki kalo orang tersebut tidak mengenal kita dan kita sudah tentu tidak mengenalinya?
Apakah kita akan membiarkan dia masuk kedalam rumah kita sedangkan dia tidak mencintai kita? Bahkan jangan kan mencintai mengetahui atau mengenal kita saja tidak?

Ini tentu berbeda saat ada orang yang memang kenal dengan kita, bahkan mencintai kita. Kita akan sambut dia dengan sambutan terbaik bukan? Ya iyalah, orang yang mencintai kita sudah pasti kita pun juga cinta kepada nya

Begitu pun saat kita mau masuk ke Istana nya Allah SWT (Surga), bisa kah kita memasuki nya sedang kita tidak mencintai pemilik istana? Tidak mengenalinya? Lupa kepadanya?

Cintailah pemilik Istana, maka tentu kita diizinkan masuk ke dalam istana dan akan dijamu dengan kenikmatan yang tak pernah kita bayangkan.

Nah saat sudah mengetahui pemilik istana, bagaimana menunjukan cinta kita kepada pemilik istana tersebut?
Bersyukurlah karena kita mempunyai petunjuk pedoman kalau ada jalan tol (yang lurus), yang merupakan jalan benar menuju Istana tersebut.
Itulah jalan Rasulullah..

Cintai Rasulullah
Saat kita sudah mengetahui negri tempat Istana itu berada kita pun akan mengikuti satu jalan yang sudah ditulis diatas. Jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan nya Rasulullah SAW.
Bagaimana kita bisa menuju Istana tersebut, sedang kita tidak mengikuti jalan nya Rasulullah SAW. Wong cuman itu jalan satu-satu nya yang benar menuju Istana yang kita tuju?
Maka dari itu ikutilah jalan nya Rasulullah, cintai lah dia yang sudah menuliskan jalan yang benar. Agar kita tidak tersesat. Bagaimana? Rasulullah sudah berpesan, ikutilah Kitabullah dan sunnah nya niscaya kita tidak akan tersesat.

Cinta kepada Orang saleh
Seperti kita ketahui, saat memasuki jalan Tol cuma mobil yang boleh masuk dan melewatinya.
Bagaimana bagi kita yang belum mempunyai mobil agar bisa lewat jalan Tol tersebut agar sampai ke kota yang hendak kita tuju?

Ya kita harus berusaha agar segera mempunyai mobil, soal nya cuma itu syarat mutlak agar kita bisa melewati jalan tol tersebut menuju negri yang di sana ada Istana yang kita ingin tuju.

Gimana cara nya? Sering-sering lah bergaul dengan orang yang sudah mempunyai mobil (orang shaleh).
Karena mereka lah yang sudah tentu yang bisa melewati Jalan Tol tersebut (berada di jalan yang benar).
Mereka yang paling tau bagaimana jalan tol tersebut, karena mereka sudah punya mobil yang bisa melalui jalan tol tersebut.

Dekati mereka, ikuti sedikit demi sedikit langkah mereka agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka bagaimana langkah mempunyai mobil seperti yang mereka punyai agar bisa ikut masuk dan melalui jalan tol tersebut menuju Istana yang kita tuju.

Kalo masih sulit juga, cukup lah tunjukan cinta kepada mereka. Sering bergaul bersama mereka, berkumpul bersama mereka, berteman bersama mereka dan pada nantinya bersahabat bersama mereka. Agar… Kita yang belum punya mobil, bisa ikut menumpang dengan mereka.

Ini semua tepat seperti Hadits diatas sebelumnya, kata Rasulullah SAW kamu akan berkumpul dengan orang yang kamu cintai

Maka cintai lah Allah, Rasulnya, Sahabat dan orang-orang shaleh.

* * *

Terkait bagaimana kita berkumpul dengan orang-orang shaleh, maka tidak salah ada pepatah mengatakan

“Kalau mau wangi bertemanlah dengan penjual parfum”

Memang tindak tanduk perbuatan kita kita sendiri yang menentukan, pun diakhir kita juga yang akan menentukan menjadi seperti apa, kita pula yang menyudahi mau kemana kaki kita akan melangkah, apakah ke jalan yang benar atau tersesat ke jalan yang salah.
Tapi kita liat pepatah tersebut, saat kita sering berkumpul dengan orang baik, orang shaleh maka sedikit banyaknya kita bisa kecipratan dan tertular akan kebaikan atau ilmu mereka. Dengan berkumpul bersama orang baik, orang shaleh kita bisa belajar dan menyerap ilmu dari mereka untuk kita amalkan.

Bahkan, dalam suatu kutipan yang saya ambil,
Habib Abdullah bin Husein bin Thahir al-Alawiy mengingatkan kita akan pentingnya berkumpul dengan ulama-ulama atau orang saleh.
Berikut nasehat beliau..
“Ketahuilah, sesuatu yang paling mujarab untuk mempercantik hati, memancing ampunan atas dosa-dosa, menepis kegundahan hati, dan mengundang segala kesenangan rohani adalah menghadiri majelis para wali, shalihin, alim ulama berhati khusyuk yang mengamalkan pengetahuannya, serta para ahli ibadah yang memiliki sifat zuhud…”

Mau memperbaiki diri? Maka berkumpulah dengan orang-orang yang baik, orang-orang yang shaleh.

Pun berharap semoga Allah SWT menjadikan kita menjadi orang yang shaleh, berkumpul di dunia berkumpul pula di akhirat, di dalam surga berjumpa dengan Kekasih-Nya Junjungan kita Baginda Rasul Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.
Karena seperti Hadits beliau, kita pada akhirnya di akhirat akan berkumpul dan bersama orang yang kita cintai….

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” HR. Muslim.

Saukani, Muhammad.
6 Juni 2013

Advertisements