Seakan menjadi Palu yang melihat sekitarnya Paku

by saukani muhammad

Palu dan Paku
“jika satu-satunya alat yang kau miliki adalah palu, kau akan cenderung melihat segala hal sebagai paku” – Abraham H. Maslow

Terkadang…
Kita terlalu sibuk mengungkapkan kebenaran (iya, katakan yang benar meski pahit) sampai-sampai tanpa sadar itu sebenarnya hanya menyakiti hati orang yang mendengarnya.
Jangan-jangan kita hanya sedang mencoba menunjukkan diri sebagai yang paling benar atas mereka, merasa bangga sebab memenangkan perdebatan.
Lalu apa dalil kita?
Katakan yang benar meski pahit, katanya. Tapi mungkin kita kurang benar dalam memaknainya.
Yang benar belum tentu tersampaikan. Yang pahit sudah pasti dirasakan para penyimak kata-kata kita.
Dengan begitu, disebabkan kesempitan ilmu, kita telah menjadi pemilik palu, dan merasa semua orang adalah paku.”
(Salim A Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah)

http://kicauanien.tumblr.com

* * *

Prolog diatas merupakan kutipan dari buku Salim A. Fillah yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah yang di posting Mba Anin Narulita di tumblr-nya.

Memang, kadang saking semangatnya kita menyampaikan kebenaran lantas kita lupa bagaimana membungkus kebenaran tersebut dengan indah sehingga tidak melukai perasaan orang lain.

Kita terlalu semangat berusaha agar orang lain mengetahui akan kebenaran yang hendak kita sampaikan, tapi kita lupa suatu hal yang penting yaitu bagaimana cara menyampaikan agar dia mengerti dan memahami kita.

Kita kadang terlalu fokus terhadap konten (isi) meminggirkan delivery (cara penyampaian). Padahal pesan yang bagus, haruslah bagus konten nya bagus pula penyampaiannya.

* * *

Sebenarnya, terlalu banyak pelajaran yang diberikan manusia mulia junjungan kita Nabi Muhammad SAW terlebih dalam bagaimana menyampaikan kebenaran.
Kita kadang melewatkan bagaimana cara Nabi kita Muhammad SAW dengan lemah lembut dalam bertutur kata dalam menyampaikan kebenaran. Pun saat melakukan teguran.
Salah satu nya dalam suatu hadits, saat ada seorang Arab Badui (pedalaman) yang buang air kecil di mesjid.

Saat melihat seorang Arab Badui kencing di mesjid, para sahabat Rasulullah berteriak dan ingin menegur menghalanginya tapi Rasulullah melarangnya.

Rasulullah menunggu Arab Badui tersebut menyelesaikan membuang hajat nya, baru lah Rasulullah datang menasehati nya.

Dengan lemah lembut beliau menasehati dan memberi tahu bahwa ini mesjid tempat suci untuk beribadah, tidak boleh dikencingi. Tidak dengan memarahinya.

* * *

Untuk itu cukup penting kita renungkan bagaimana cara kita saat hendak menyampaiakan suatu kebenaran, karena kemampuan setiap orang dalam memahami dan menerima sesuatu yang kita sampaikan berbeda-beda.
Jangan sampai niat kita untuk merangkulnya kedalam kebenaran, membuatnya menjauh karena cara kita yang seakan Palu saat melihat Paku.

Wallahu a’lam bishawab
Muhammad Saukani, 21/06/13

Advertisements