A Beautiful Mess

biarkan aku menulis tentang mu.. kata demi kata, alinea demi alinea, halaman demi halaman.. hingga menjadi sebuah buku, untuk kita baca bersama

Bersepakat untuk berbeda


Salah satu kesalahan terbesar manusia, cenderung membenci sesuatu hal yang sebenarnya tak ia mengerti.

Bermula beberapa saat yang lalu tersiar kabar kabar bahwa terjadi penolakan terhadap Ustadz Khalid Basalamah di Banjarmasin. Ternyata penolakan serupa juga terjadi terhadap beliau di kota-kota lainnya.

Saya terenyuh.

Meskipun saya terlahir di keluarga muslim yang “tradisional”, dimana dari segi pemikiran dan faham mungkin saya berseberangan dengan beliau. Saya menolak dan menyayangkan resistensi masyarakat terhadap majelis beliau.

Bukankah sebagai muslim yang selalu selalu mengambil jalan tengah, menjungjung tinggi nilai toleransi, tidak mudah mengafirkan umat muslim yang lain, tidak mudah membid’ahkan sesuatu hal yang baik, tidak mudah merasa diri paling suci. Seharusnya bisa lebih berprasangka baik terhadap beliau dan jalan dakwahnya?

Ya, mungkin beliau mengambil sikap tegas dan keras untuk menolak amaliyah-amaliyah masyarakat pada umumnya seperti peringatan maulid, tahlilan, tawassul atau bahkan perihal fiqh lain nya yang bersifat furu’iyah (cabang-cabang syariat). Namun bukan berarti kita juga harus bersikap keras pula terhadap dakwah beliau. Seperti gayung yang bersambut. 

Khusnuzdon saja. Mungkin saja beliau tidak atau belum mengerti bagaimana esensi dari konsep amaliyah-amaliyah tersebut.

Karena bukankah guru-guru kita sudah berulangkali mengabarkan, bahwa jalan menuju Allah Subhanahu wa ta’ala itu banyak?

Kenapa kita tidak bersepakat saja untuk berbeda? Bersepakat untuk tidak sepakat.

Lanaa a’maaluna, wa lakum a’maalukum (Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu).

PS :
Photo by

http://www.moslemtoday.com/video-tabligh-akbar-ustadz-dr-khalid-basalamah-ma-dibubarkan-paksa-oleh-gp-ansor-di-sidoarjo/

Apologia

Aku hanya bisa merunduk di sudut kamar malam ini. Sungguh seandainya bisa aku tukar seluruh sisa hidup ku dengan semenit saja kau memandang ku seperti dulu, yang penuh cinta dan kasih sayang. Pasti akan ku tukar.

Karena bagaimanapun, yang tersisa sekarang hanya perih.
Perih yang takkan mampu aku tahan.

Mengingat kembali pertemuan tadi sore,  saat kau bilang “Sudah, cukup. Jangan paksa aku”. Aku sadar, aku telah benar-benar menenggelamkan kita ke dasar laut. Hingga tak ada lagi yang tersisa.
Aku benar-benar menghancurkan mu. Menghancurkan kita.

Tak ada lagi tatapan mata yang berkilat kilat dari kedua bola mata mu saat memandangku. Hanya ada tatap penuh luka. Tak ada lagi senyum merekah tersungging dari bibir mu. Hanya ada senyum sekenanya.

Mungkin bagimu penyesalan berkurang arti dan makna nya hanya karena semuanya datang erlambat. Tapi aku benar-benar menyesal atas apa yang aku perbuat.

Aku cinta kamu, maaf telah meninggalkan luka. Na.

6 Januari dan Kita

image

6 Januari 2015 – 6 Januari 2016

Aku tidak pernah tahu pasti kapan semua ini dimulai. Sebuah perjalanan atau mungkin petualangan, yang sedetik pun tak pernah terbayangkan.

Dengan jalan yang tak biasa, bahkan terbata. Kami bersama mencoba meniti dan mengukir asa.
Tidak selalu mudah memang, namun “kita” bagi kami adalah sesuatu yang pantas.

Persis seperti yang diungkapkan Zen RS kepada Galuh Pangestri.
Kami seperti sedang backpacker-an. Seadanya, sarat keterbatasan, bahkan ringkih dan rentan. Menempuh jalur yang tak jamak, rute yang tak lazim. Kami pun kadang terguncang-guncang dengan pikiran yang centang perenang.
Tapi kami belum kapok, dan tidak akan pernah kapok.

Hari ini, tepat satu tahun kita bersama. Aku harap kita akan selalu menjadi kita.
Seirama, dan selalu berada di frekuensi yang sama.

Sepenuh cinta.

3 Januari

image

3 januari 1992.
Kau tau, mungkin malaikat sedang tersenyum saat itu. Saat tangis mu pecah pertama kali di dunia. Memecah keheningan sebelumnya. Di detik-detik kau keluar dari rahim sang ibu.
Read the rest of this entry »